Selasa, 27 Februari 2018

Rindu Terlarang

Mungkin terlalu dini saat dia menyatakan cintanya padaku, atau aku yang memang tidak tahu apa itu cinta. Aku mengiyakan saja, namun kami tidak mendeklarasikan bahwa hubungan spesial kami bernama ‘pacaran’. Waktu itu aku mahasiswi baru di sebuah perguruan tinggi di Surabaya, dan dia mahasiswa semester lima di perguruan tinggi luar negeri. Kami berasal dari SMA yang sama dulunya, dan aku sempat bercita-cita mengikuti jejaknya sebelum ayahku melarangku kuliah di negara orang. Ayah berkata bahwa perguruan tinggi yang dimiliki Indonesia sudah cukup untuk membuat manusianya cerdas, tak perlu meminta ilmu di negara orang kecuali kau hanya untuk mengembangkan dan menunjukkan keilmuan Indonesia bisa keren di mata mancanegara. Lagipula kualitas otak manusia bukan ditentukan oleh perguruan tinggi atau siapa yang mengajarmu, tapi bagaimana kamu sendiri belajar dan mengembangkan pengetahuanmu sendiri. Aku lumayan menyetujui perkataan ayah dan aku ingin tahu itu.
Nizam namanya, makhluk baik hati yang disukai banyak gadis terutama adek kelasnya ketika di SMA yang ternyata dia diam-diam menyukaiku sejak aku di-MOS olehnya. Satu tahun pertama hubungan kami baik-baik saja, sampai suatu ketika aku jujur kepada bundaku tentang hubungan kami. Tanggapan bunda tidak terlihat ia menyetujuinya atau menolaknya, bunda hanya memberiku sederetan panjang nasehat bagaimana sebuah hubungan itu seharusnya. Aku tidak berani bicara tentang ini kepada ayah, tapi bunda ia membicarakan hal ini dan yang aku dapatkan adalah tidak ada restu dari ayah. Ayah dan bunda mengenalnya, tapi entah apa yang membuat ayah tidak menyetujui hubungan kami. Aku tidak bisa mengatakan ayah orang yang egois, karena aku tahu jauh dilubuk hatinya ia menginginkan suatu yang terbaik untuk anak gadisnya.
Tiga bulan hingga empat bulan aku merahasiakan hal itu kepada Nizam. Aku bingung, aku takut, aku tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana. Dia yang terlanjur jatuh hati dan banyak berharap hubungan kami hingga akhirat, harus kecewa berat hanya karena keputusan ayahku sudah bulat. Aku tidak ingin ia kecewa pada ayah, hingga aku harus mengarang cerita perselingkuhanku dan bahwa aku sudah tidak lagi cinta padanya. Setidaknya agar ia rela melepas perempuan (yang akan dianggap) tidak baik sepertiku, setidaknya jika ia kecewa cukuplah hanya aku yang dapat ia benci dan bukan keluargaku. Butuh waktu cukup lama untuk mengatakan kebohongan itu, hingga suatu saat aku menumpahkan segala karangan cerita melalui email kepadanya.
Berat, kecewa, sedih, marah, semua tercampur aduk dalam hatinya juga hatiku. Kenapa? Kata itu yang selalu ia lontarkan padaku yang aku pun tak bisa menjelaskan apa-apa lagi kecuali penjelasan yang masih samar-samar juga. “ini keputusanku, sudah bulat, aku memang tidak baik untuk kamu. Maafkan aku kak Zam, sungguh..”
Sejak saat itulah hubungan kami benar-benar senyap. Dari luar tampak seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Berat, sangat berat aku harus berbohong padanya yang memiliki cinta yang tidak biasa padaku. Aku belum pernah dicintai manusia setulus dia. Tidak seperti orang-orang pacaran pada umumnya, kami lebih banyak menjalani dengan LDR dan hanya melampiaskan kerinduan kami melalui -saling- doa. Kaku. Aneh. Dan sebutan lain banyak terlontar dari teman-teman dekatku yang tau hubungan kami. Aku bahkan tidak pernah cerita mengenai hal ini dan membiarkannya tersimpan rapat. Aku pikir hanya Tuhan kami yang berhak tahu bagaimana hati kami -sebenarnya- saling terpaut. Tadinya aku akan menceritakannya suatu saat, bagaimana perjuangan kami untuk menuju hubungan yang halal, namun restu ayahku membuatku meralat segalanya. Aku pikir, hubungan kami akan menjadi hubungan yang indah hingga akhirat. Begitu juga yang Nizam harapkan.
Ibuku, yang kenal baik seorang Nizam, sudah terlanjur berharap bahwa kelak putri kesayangannya bisa mendapatkan seorang pria yang baik seperti Nizam. Namun apalah daya ibu, otoritas tertinggi dalam keluarga tetap pada keputusan ayah. Sayangnya, kami juga tidak bisa melawan sifat kerasnya ayah. Sejak keputusan ayah bulat, aku menjadi jarang pulang ke rumah saat weekend dan lebih banyak menghabiskan waktu di kos meskipun sedang tidak ada tugas kampus. Ibu sesekali bertanya apakah aku pulang saat weekend, dan aku hanya beralasan ingin mengejar proposal lebih awal agar bisa lulus di semester 7.
Nizam yang terlanjur kecewa dan marah padaku, ia memblokir semua media sosialku. Aku mengutuk diriku sendiri, bagaimana bisa aku membuat orang sebaik dan sesempurna Nizam menjadi marah padaku. Harusnya aku memperjuangkan dia. Harusnya aku bisa bernego dengan ayah. Harusnya aku minta bantuan pada ibu. Harusnya...ahh...semua sudah berlalu.
Masa proses melupakan segalanya, sahabat terbaikku yang tahu segala tentang kami, dia cerita bahwa Nizam telah bertunangan dengan orang pilihan ibunya. Kabar itu, membuatku semakin terpuruk rasanya. Apakah dia bahagia? Tanyaku. Dia menjawab tidak tahu. Bahkan aku tidak pernah bertemu lagi dengannya meski dia tinggal berjarak satu desa dari rumahku. Meski aku belum bisa melupakannya hingga dua tahun pertama ini, aku terus berharap semoga dia bahagia dengan siapapun yang menajadi jodohnya.
Rasa ingin tahu kabarnya -atau mungkin karena merindukannya- aku membuat akun media sosial palsu. Scroll dari atas hingga bawaaaaaahh bermacam-macam, aku membaca beberapa statusnya yang tertanggal tidak jauh dari saat aku memutuskan mengakhiri semuanya. Perasaan sedihnya, marahnya, dan kecewanya dapat aku baca meskipun dia tidak menuliskannya secara langsung perasaannya.
“Jika kelak kita hidup dalam rumah tangga yang berbeda, maka aku mohon kunjungilah aku dalam rangka sahabat atau tetangga baikmu”
Bagaimana bisa aku melakukannya? Mungkin dia akan bahagia dengan istrinya? Bagaimana denganku? Apakah kelak aku juga akan mendapatkan suami yang cintanya setulus Nizam? Ah, akun palsu hanya membuatku semakin berlama-lama bersedih dan sakit hati karena aku tidak akan berhenti mencari tahu kabarnya. Aku membuangnya lagi.
Usai lulus sesuai target, aku dianjurkan mengikuti tes beasiswa S2 oleh beberapa dosen termasuk dosen pembimbing skripsiku, pak Irsyadi. Usai konsultasi pada orang tua, ibuku setuju, namun ayah belum merestuinya. Ayah ingin aku menikah dulu sebelum aku melanjutkan S2ku. Di desaku, anak perempuan seumuranku memang sudah banyak yang berkeluarga, ayah khawatir jika aku akan menjadi perawan tua. Beberapa pria sudah mengadap ayah untuk meminangku, namun tidak ada satupun yang berhasil menyentuh hatiku. Ibu juga mulai khawatir bahwa aku belum bisa melupakan Nizam yang sudah tiga tahun tidak terdengar lagi kabarnya. Hanya Elita sahabatku satu-satunya yang tahu kabarnya. Sering kali aku bertanya kabar Nizam, namun Elita sering kali menyembunyikannya dengan jawaban tidak tahu. Namun kabar angin juga dapat aku dengar bahwa sebentar lagi dia akan menikah. Elita semakin menyemangatiku untuk bisa move-on darinya. “Dia berhak bahagia, kamu juga harus bahagia Milaa..” Elita mulai geram dengan sikapku. “Apakah dia bahagia bersama istrinya?” tanyaku beberapa bulan kemudian. “Nizam mengucapkan akad dengan sangat mantap Mil, aku yakin dia bahagia”. “Alhamdulillah kalau begitu, itu yang aku harapkan, barakallah lahuma wa jama’a bainahuma fi khair..” “Amiiin” jawab Elita senyum dengan harapan bahwa hatiku juga sudah sembuh.
Aku menyibukkan diri dengan bekerja disebuah perusahaan sebagai analis keuangan di kota Malang. Hingga seorang pria datang kepada orang tuaku, kata ibu dia InsyaAllah baik untukku. Ibu mendukungku dengan pria satu ini. Fahmi namanya. Agamanya baik, keluarganya baik, pendidikannya juga baik, lulusan S2 UI, dia akan menjadi suami yang baik untukku kata ibu. Ayah adalah orang paling setuju, karena Fahmi adalah anak dari teman baiknya. “Dia dulu pernah main kesini waktu kalian masih kecil loh, setelah lulus SMP keluarganya pindah ke Semarang, jadi sudah gak pernah main kesini lagi. Katanya dia pernah melihatmu waktu penelitian di Surabaya, tapi gak berani yang mau nyapa takut salah orang katanya” jelas ayah.  Dan aku? Hanya menanggapinya dengan perasaan hambar.
Elita yang masih tahu bagaimana hampanya hatiku, dia menasehatiku bahwa aku harus berhenti mengharapkan seorang yang sudah menjadi suami orang lain. Iya, aku tahu itu. Harusnya cintaku pada Nizam ini sudah tidak boleh, karena dia sudah menjadi suami orang lain. Tidak boleh lagi aku merindukannya, karena ini adalah rindu terlarang. Ya Allah, tak akan lelah hamba meminta agar hapuskan rasa ini dari hati hamba karena dia bukan jodohku. Aku juga bertanya-tanya akankah aku diampuni oleh-Nya karena membuat sebuah hati tersakiti? Sebuah hati yang begitu tulus, aku hancurkan harapannya.
Ibu benar, Fahmi adalah orang yang baik. Terbukti dari sikapnya yang tidak seperti pemuda didesaku yang akan mengajak keluar atau jalan-jalan tunangannya. Fahmi lebih memilih silaturrahim seperti biasa pada keluargaku. Dan sifat-sifat baik yang dia tunjukkan sudah mulai mencairkan hatiku.
Suatu hari, aku menjenguk teman baikku -saat masih kuliah- di sebuah rumah sakit Surabaya. Sepanjang lorong jalan bau obat khas rumah sakit membuatku sedikit pusing hingga membuatku harus memakai masker. Teriakan orang kesakitan sesekali terdengar sangat pilu. Dan keluarga yang menyandinginya, aku juga tidak tega. Terlihat begitu tegar meski wajahnya sesekali disekanya air mata. Temanku dirawat di lantai 3 di kamar paling ujung, ruang yang terisi sekitar enam pasien.
Setelah menyemangati temanku dan keluarganya, aku pamit pulang. Sesampai di lima meter sebelum pintu ruangan, tirai pasien sebelah temanku dirawat terbuka. Seorang suster keluar diikuti seorang ibu paruh baya. Deg!!! Bukankah dia ibunya Nizam? Aku membiarkannya lewat begitu saja didepanku. Aku masih dengan maskerku. Ngapain beliau disini? Hingga kulihat siapa yang sedang terkulai lemas diranjang pasien itu. Nizam? Sakit apakah dia? Dan seorang perempuan yang begitu teduh wajahnya. Istrinya kah? Ya Allah.. ada apa ini? Hingga ibu Nizam tidak telihat karena mengikuti si perawat, aku masih terpaku menyaksikan orang yang selama ini aku cari tahu kabarnya, terkulai lemas, pucat. “Mbak Mila kan ya?” tanya perempuan yang daritadi disamping Nizam membuyarkan tatapanku.  Aku bingung. Kaku. “ehh eh i..iya, kok kamu tahu?” jawabku gugup. Kenapa dia mengenalku? Aku masih dengan maskerku. “Boleh bicara sebentar?” katanya. “emm b..boleh..” aku diajaknya keluar ruang pasien meninggalkan Nizam yang sepertinya sedang tidur.
Perempuan itu, benarlah dugaanku, dia istri Nizam. Dia berbicara panjang lebar. Dan yang membuatku semakin lemas adalah istrinya Nizam tahu bahwa Nizam masih mengharapkanku. Dari awal Nizam sudah meminta maaf pada calon istrinya itu, jika hingga detik itu dia masih belum bisa menghapus bayanganku dari benaknya. Namun dia, istrinya yang cantik itu masih saja menerima kenyataan tersebut karena pernikahan mereka adalah keputusan orang tuanya. Sudah lima hari ini Nizam dirawat di rumah sakit karena penyakit liver. Iya, Nizam pernah bercerita padaku bahwa dia sempat sakit ketika masa kuliah di luar negeri dan kata dokter itu adalah gejala liver. Dia khawatir penyakit itu kambuh lagi suatu saat. Dia bercerita betapa sakitnya jika penyakit itu kambuh. Apalagi saat itu dia sedang jauh dari kerabat dan keluarga. Dia pun pernah mempertanyakan kesanggupanku untuk merawatnya jika suatu saat penyakit itu kambuh lagi.
“Mbak, saya boleh minta sesuatu?” kata perempuan didepanku. “Minta apa mbak?” tanyaku. “Menikahlah dengan Nizam, dia sangat mencintai mbak Mila..”. Allahu Rabbii... bagaimana bisa, seorang istri meminta orang lain menikah dengan suaminya sendiri. “Tapi mbak..” “Mbak... saya mohon... mas Nizam akan bahagia jika mbak yang menjadi istrinya.. dan mungkin jika mbak jadi istrinya, mas Nizam gak akan sakit seperti ini..” perempuan itu mulai menangis. “saya mohon mbak..” dia semakin memelas membuatku harus segera pergi. “ndak mungkin mbak, ndak mungkin.. maafkan saya..” sambil buru-buru pergi.
Sepanjang perjalanan pulang, aku menyesali segalanya. Aku mengutuk diriku sendiri. Betapa jahat diriku membuat orang lain menjadi se-menderita ini. Ya Allaahhh akankah dosaku ini bisa Engkau ampuni? Setiap kata yang diucapkan istri Nizam terngiang jelas di benakku. Tidak ada wanita di dunia ini yang menginginkan suaminya menikah dengan orang lain. Apakah dia sudah bosan tidak mendapatkan kebahagiaan dari Nizam? Jika iya, pastilah tetap aku yang salah. Aku yang membuatnya seperti ini. Seharusnya wanita malang itu tidak ikut menderita seperti ini. Jika aku meng-iya-kan permintaannya untuk menikah dengan Nizam, apa kata orang? apa kata orang tuanya? Tetangganya? Orang tuaku? Tetanggaku? Pastilah aku akan semakin dianggap perempuan yang tidak benar. Bagaimana dengan Fahmi yang sudah mulai memasuki ruang di hatiku? Bagaimana keluarga Fahmi yang juga sudah terlanjur mengharapkanku? Ya Allaah astaghfirullaahh..
Sesampai terminal Arjosari, aku lanjutkan pejalanan menuju rumah dengan motorku, lemas tidak bersemangat. Beberapa kilo dari terminal hujan begitu deras menambah rasa pilu di hatiku. Hujan menyamarkan air mataku yang mulai deras juga. “maafkan aku kak zaam, maafkan aku...kak Nizaaaaaamm” teriakku didalam helm. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil yang melaju kencang di 20meter dariku menghindari trotoar yang sedang dalam perbaikan hingga terguling tepat didepanku dan beberapa pengendara motor lainnya. Sial! Aku tidak bisa menghidarinya. Terpental cukup jauh dan kepala membentur trotoar sangat keras. Korban-korban lain juga terpental tidak karuan. Allaaahhhh. Kemudian gelap.
Sekitar 95km dari kejadian itu, seorang wanita mengisi kepergian suaminya. Suami yang belum sempat mencintainya sebagai istri. Iya, Nizam masuk masa kritis tidak lama setelah Mila pergi dari tempat itu. Dan meninggal karena livernya sudah masuk hepatitis C. Sang ibu tidak berhenti menangisi kepergian putra kesayangannya.
Bisa jadi, kepergian dua jiwa itu menuju satu tempat yang sama, yang abadi di hadapan Ilahi. Karena di alam yang kekal, tidak ada cinta yang dihalangi, tidak ada cinta terlarang, tidak ada cinta yang tersakiti, karena Yang Maha Cinta akan mengabadikan cinta suci dua hati yang selalu disandarkan pada-Nya.

_TAMAT_

Sabtu, 08 Oktober 2016

Cara Mencegah Bau Kaki Akibat Sepatu

Kamu pengguna sepatu kets? Atau sepatu apapun yang tertutup? Yang kalo dipake seharian bikin bau Innalillah? Sampai2 berdiri pun baunya masih bisa kecium? Padahal baru kemaren sepatumu dicuci?
Nih saya kasih tips, sebenernya saya dapat info ini dari adek saya dan ketika saya praktekkan ternyata BERHASIL, uyyeah!! Maka dari itu saya merasa wajib untuk membagikannya_
Tipsnya adalah:
Kamu pakai deodoran gak? Yang lotion, semprot, atau tabur sekalian.. Maka jawabannya adalah ITU..
Selain kamu pakaikan deodoran di ketiak, pakaikan juga ke kakimu sebelum pakai sepatu..
Simpel
Mudah
Murah
Bet wai?
Karena bau kaki itu sama halnya dengan bau di ketiak, diakibatkan keringat yang bercampur bakteri.. That's the reason 
Selamat mencoba dan bebas dari bau kaki yang *yuck*

Tere Liye, Hujan

Novel hujan novel yang menceritakan tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan dan tentang hujan. Ada beberapa catatan yang saya sukai dari novel ini, meskipun sebenarnya banyak sekali pelajaran yang bisa diambil darinya. Berikut quotes yang saya suka:

"Kita bisa mengenang banyak hal saat hujan turun, karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya." _hujan_

"Ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu esok." _cinta_

"Tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar. Tidak ada kepastian juga kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian. Hidup ini juga tentang menunggu. Menunggu kita untuk menyadari: kapan kita akan berhenti menunggu." _penantian_

"Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh sang pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik daru jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi kenapa sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta." _jatuh cinta_

"Banyak orang yang meminta agar kenangannya dihapuskan. Tetapi sesungguhnya, bukan melupakan yang menjadi masalahnya. Tetapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka ia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan." _melupakan_

"Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami."

Sekian.

Kamis, 01 September 2016

Receh untuk Indonesiaku


Saya menulis isi pikiran saya ini sekitar tiga tahun yang lalu, entah kenapa tulisan buruk ini ingin sekali saya publikasi. Melihat keprihatinan hutang negara dengan melihat kebiasaan orang Indonesia yang baik kepada para pengemis dijalanan, yang tidak pernah memperhitungkan receh yang ia keluarkan untuk mereka yang tidak bekerja, receh yang dengan ikhlasnya diambil dari dompetnya sisa kembalian belanja di super market, receh yang terkadang dianggap tidak berguna.
__________________________________________________________________

Seperti tubuh yang sudah terjangkit berbagai penyakait mulai dari yang ringan, sedang hingga yang berat. Begitulah permasalahan Indonesia saat ini. Sangat komplit mulai dari politik, sosial, hingga perekonomian tak pernah ada selesainya. Berbagai upaya untuk mengurangi suatu permasalahan, satu masalah selesai masalah yang lain bermunculan. Namun ada pula  yang ‘katanya’ sudah diupayakan untuk disembuhkan, tapi sampai sekarang tak ada tanda-tanda fisik yang sehat dan bahkan terlihat semakin pucat dan menular ke bagian-bagian tubuh yang lain seperti kanker ganas.
Penulis sedang tidak ingin melihat penyakit negeri ini secara kompleks dan menfokuskan pada satu hal yang berkaitan dengan masalah ekonomi. Hingga saat ini, Indonesia belum bisa melunasi hutangnya yang setiap tahun semakin bertambah dan akan terus bertambah jika tidak segera dilunasi. Memang sangat sulit dalam membuat APBN (Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara) dengan keuangan yang tipis karena pemasukan harus sama dengan pengeluaran, sedangkan kas negara kadang tidak cukup untuk anggaran satu tahun dan akhirnya jalan hutang ke luar negeri yang bisa diandalkan. Tahun 2013 hutang Indonesia hampir mencapai dua ribu triliun (Rp.2.000.000.000.000.000,-). Angka yang tidak sedikit karena ada dua belas angka nol yang terhitung disana. Jumlah penduduk keseluruhan Indonesia menurut data statistik tahun 2013 adalah 242.013.800 jiwa. Itu berarti hutang perkapita Indonesia adalah sekitar 8.263.992,- itupun terhitung dengan bayi yang baru lahir sampai yang sudah lanjut usia. Selain karena memang negara ini butuh lebih banyak uang untuk menutupi pengeluaran, juga kurs mata uang Indonesia terhadap dollar Amerika yang mencapai Rp.10.000 per $1. Penumpukan hutang memang sudah berjalan sejak presiden pertama, namun melonjak hingga mencapai 50 persen setelah masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono (2013).
Seperti halnya air, uang yang beredar tidaklah bertambah tetapi hanya berubah. Mengalir pada dataran yang rendah yang memang digali oleh orang yang benar-benar berusaha dan mendapatkan haknya, kering pada daratan rendah kantong orang-orang yang pemalas dan kadang juga pada datarannya orang yang telah berusaha menggali tanah tetapi air yang seharusnya ada pada tanahnya malah tersedot orang-oran yang tidak bertanggung jawab, hak mereka terampas. Tapi tidak sedikit adanya tampunga air yang ada diatas dataran rendah dengan tampungan benda lain. Itulah pekerjaan koruptor yang menampung air dengan ember pribadi, mengisi hingga penuh dari daratan yang bukan miliknya.
            Sedangkan kondisi hutang Indonesia ibarat lubang yang sudah terlalu dalam dan kering. Seandainya ember-ember yang ada di atas permukaan tanah itu dituang ke dalamnya, maka setidaknya lubang hutang itu akan terisi air meski tidak penuh namun pasti mendekati penuh. Bagaimanapun korupsi sangat sulit dibersihkan. Denda yang . Akan terlalu bosan jika dibahas setiap saat karena korupsi menjadi hal yang biasa ketika lingkungan sudah mulai penuh dengan kata korupsi, mulai dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Ketua Dewan Penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abdullah Hehamahua mengatakan bahwa sangat sulit jika negara ini mau keluar dari lilitan hutang.
              Pendapatan perkapita Indonesia di akhir tahun 2013 diperkirakan akan mencapai  44.000.000 - 45.000.000, hal itu telah menjadi kabar baik untuk pertumbuhan indonesia namun pendapatan tiap individu tidaklah sama, masih banyak terlihat orang-orang miskin disekitar kita. Berbagai profesi mulai dari pejabat tinggi hingga pengamen jalanan yang bisa kita lihat setiap harinya. Jika setiap individu diwajibkan membayar Rp 1.000,- setiap minggu maka tidak akan ada yang terbebani bahkan pengemispun seandainya diminta hanya Rp.1.000,- tidak akan mengubahnya menjadi orang yang lebih menderita. Dan ketika semua rakyat Indonesia tak terkecuali presiden dan para jajaran mentri diwajibkan atau ditagih Rp.1.000,- seminggu sekali, akan terkumpul 1.000,- X 242.013.800 penduduk = 242.013.800.000,- pada minggu pertama. Dan dalam bulan pertama 242.013.800.000 X 4 = 968.055.200.000 atau 242.013.800.000 X 5 =  1.210.069.000.000,-  pada bulan pertama, dan 242.013.800.000,-  X 53 = 12.826.731.400.000,- dalam tahun pertama . Untuk mencapai 2.000.000.000.000.000, akan membutuhkan waktu lebih dari 155 tahun, waktu yang tidak sebentar.
            Tetapi jika setiap individu di tuntut Rp.1000,- (diluar pajak penghasilan dll.) perhari akan menjadi, 242.013.800 X 1.000,- = 242.013.800.000,- kemudian 242.013.800.000 X 7 = 1.694.096.600.000,- per minggu, dan 242.013.800.000 X 365 = 88.335.037.000.000,- untuk mencapai 2.000.000.000.000.000 harus menunggu hingga 22 tahun, belum lagi beban bunga yang terus bertambah. Meskipun terbilang lumayan lama, setidaknya hal itu mampu mengurangi beban tahunan APBN. Dan akan sangat mungkin ketika penduduk terus bertambah setiap tahunnya.

            Hal yang mendasar lagi untuk mengatasi hutang luar negeri adalah dengan peningkatan konsumsi dalam negeri. Indonesia mempunya sekitar ratusan anak SMK yang skillnya diarahkan pada permesinan, ribuan mahasiswa yang fokus belajar teknologi. Jika Indonesia benar-benar mencetak mereka, Indonesia tidak perlu terlalu banyak impor barang elektronik dari negeri orang. Penduduk yang cenderung konsumtif membuat Indonesia lebih dituntut lagi untuk bisa meningkatkan industri dalam negeri. Sehingga kata ‘oleh Indonesia, dari Indonesia, dan untuk Indonesia’ tidak hanya menjadi sebuah semboyan belaka. 
Allahu a'lam.

Transaksi Kupon Barang Elektronik

Jadi tertarik untuk menuliskan pengalaman yang satu ini karena beberapa waktu yang lalu terjadi lagi meski di lain tempat. Aku tidak tau nama sistemnya tapi biar aku jelaskan alurnya dari awal. Ceritanya pada zaman dahulu ketika baru ada masa pra kuliah alias matrikulasi aku diajak teman untuk nge-mall. Setelah berkeliling keliling muter muyer naik turun seisi mall aku ditarik oleh seorang pemuda dengan memberikan bingkisan. Pemuda itu berkata “ini mbak saya kasih bingkisan gratis, tapi saya mau minta data mbaknya untuk laporan, jadi mbak ikut saya ke stand kami” dengan polosnya kami mengikuti pemuda itu. Kami berkenalan ditanya banyak hal kemudian dia mengenalkan perusahaannya. Dia bilang bahwa itu adalah toko elektronik yang baru buka dan menawarkan diskon mulai 60% hingga 90% plus gratis alat elektronik tertentu lainnya.
Sebelumnya pemuda itu menunjukkan pada kami daftar harga-harga barangnya dan mencontohkan harga sebuah kulkas jika tidak salah waktu itu sekitar 9juta dengan diskon 90%. Itu berarti kami hanya akan membayarnya dengan harga 900.000 saja pun dengan barang elektronik pilihan gratis. Daftar yang ditunjukkan pada barang yang bisa diberikan secara gratis diantaranya adalah seterika, bleder, mixer, kipas angin, dll. Sedangkan barang yang kita dapat namun masih bayar dengan diskon tertentu diantaranya kulkas, tv, kompor listrik, dvd, laptop, alat olahraga, dll. Kertas yang dipegang oleh pemuda itu terdapat gambar-gambar barang yang ditawarkan dan ada penjelasan diatas gambar barang ada nomor-nomor seri yang katanya sudah ada diantara amplop-amplop akan kami ambil salah satunya nanti, dibawah gambar-gambar ada harga asli barang yang nantinya itu adalah harga yang tidak berlaku karena kami akan mendapat potongan harga. Singkat cerita kami ditawarkan untuk menukarkan bingkisan tadi dengan kupon yang diacak yang isinya adalah kami berhak mendapat dua alat elektronik yang mana satu dari dua tersebut adalah gratis dan satunya tidak gratis tapi membayar dengan diberikan potongan harga sebesar 60-90% tergantung produk dan keterangan dari kupon yang akan didapat nanti.
Pemuda itu juga menjelaskan beberapa syarat diantaranya jika mendapat hadian atau beruntung, barang tidak bisa diuangkan, tidak bisa dibatalkan, dan tidak bisa ditukar dengan barang yang lain. Peraturannya adalah kami mengambil sebuah undian yang dibungkus amplop-amplop ukuran sedang satu kali untuk mendapatkan hadiah yang gratis kemudian jika kami mengambil hadiah tersebut mewajibkan kami untuk mengambil kupon kedua dengan membayar sekian persen saja. Kupon pertama teman-teman memintaku untuk mengambilnya. Muncul beberapa digit nomor kemudian mencocokkan dengan nomor yang ada di lembaran yang dipegang pemuda tersebut, rupanya kami (merasa) sedang beruntung mendapatkan sebuah seterika gratis. Pemuda tersebut menanyakan apakah kami akan mengambilnya atau tidak, maka kami sepakat mengambilnya karena kami pikir kami akan membutuhkannya di asrama nanti. Kupon kedua dua temanku memintaku yang memilihnya lagi dengan harapan tanganku benar-benar sedang beruntung. Kemudian kupon kedua berisi nomor seri yang cocok dengan kompor listrik. Kami masih bahagia. Kami sedikit berdiskusi “Kita kan gak butuh kompor listrik, barangkali kita bisa menjualnya dan hasilnya kita bagi-bagi nanti, sedangkan seterika kita bisa pakai di asrama gantian.” Deal!!! Kami menyetujuinya.
Dalam kupon tertera 35% yang kami harus bayar dari kompor dengan harga awal 4.000.000 (potongan 65%) sehingga kami hanya membayar dengan 35% yakni sekitar 1.400.000 plus seterika gratis. Masih merasa bahagia!. “Betewe aku gak punya duit loh” celetukku “Aku jugaa” teman satu. Kemudian satu teman lagi berkata “Aku ada sih, gak papa kalo aku yang bayar dulu tapi nanti kalian tetep iuran ya..” “OKE” Lagi-lagi kesepakatan dibuat diluar stand. Kami masuk lagi untuk menyetujui semuanya dan membayarnya.
Di perjalanan pulang kami (masih) merasa bahagia dan berbincang-bincang rencana penjualan kompor listrik yang kami dapat hari itu. Jual manual apa jual online? Mau ngambil keuntungan berapa juta? Hari itu memang sedang lelah sehingga perbincangan kami harus diteruskan keesokan harinya. “kalo kita jual 3juta aja kita udah lumayan banyak untungnya loh, daripada jual 4juta yang seharga toko asalnya” kata salah seorang temanku. Aku sibuk browsing harga-harga yang dijual di toko online untuk kategori kompor listrik, barangkali bisa dijadikan pertimbangan harga. “Mampus!!! Kompor listrik harganya Cuma sekitar 100.000 sampe 500.000 gengs!!” kataku lemes. “Jadi kita udah ketipu nih ceritanya?”

Yap!! Benar sekali, aku semakin yakin setelah kejadian yang hampir terjadi lagi itu. Aku belum pernah mendengar istilah dalam jual-beli yang semacam itu, yang biasa terdengar direct selling, MLM, dan jual-beli biasa. Tapi yang itu? Hahahaha jangan pernah percaya dengan orang yang menawarkan bingkisan kecil bersampul cantik di manapunn terutama mall ya!! Mungkin seharusnya saya melapor kepada pimpinan pihak mall bahwa ada transaksi semacam itu di salah satu stand-nya, tapi siapalah aku? Dikenal juga kagak, gak punya ahli hukum dll. So, tidur aja sambil mengutuk kesalahan sendiri, sambil berpikir banyak tentang kemungkinan-kemungkinan isi amplop yang lain adalah tulisannya sama, sambil berpikir kemungkinan elektronik yang dipajang hanyalah hiasan belaka, sambil berpikir bagaimana hukum dalam transaksi seperti ini, sambil berpikir sepertinya menarik untuk diteliti dalam skripsi. Sekian.

Sabtu, 20 Agustus 2016

SHOLAT KAFARAT

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan pesan panjang melalui whatsapp dari salah seorang murid Habib Luthfi mengenai shalat kafarah, InsyaAllah ini adalah ilmu yang perlu saya amalkan dan saya bagikan.
Semoga bermanfaat!
----------------------------------------------------
Bersabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa selama hidupnya pernah meninggalkan sholat tetapi tak dapat menghitung jumlahnya, maka sholatlah qobliyah Ashar di hari Jum’at terakhir Ramadhan (riwayat lain setiap akhir bulan) sebanyak 4 rakaat dengan 1x tasyahud (tasyahud akhir saja), tiap rakaat membaca 1 kali Fatihah kemudian surat Al-Qadar 15 X dan surat Al-Kautsar 15 X .
Inilah Niat sholatnya :
أُصَلِّيِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ كَفَارَةً لِمَا فَاتَنِيْ مِنَ الصَّلاَةِ ِللهِ تَعَالَى
Usholli arba'a raka'atin kafaratan limaa faatanii minash-shalati lillaahi ta'alaa

Setelah selesai Sholat membaca Istigfar 10 x :
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعِظِيْمِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَ أتُبُوْا إِلَيْكَ
Kemudian baca sholawat 100 x :
اللَّهُمَّ صَلِّّ عَلَى سَيِّدِنَا محمّد
Keuadian menbaca basmalah, hamdalah dan syahadat
Kemudian membaca Doa kafaroh 3 x:

اَللَّهُمَّ يَا مَنْ لاَ تَنْفَعُكَ طَاعَتِيْ وَلاَ تَضُرُّكَ مَعْصِيَتِيْ تَقَبَّلْ مِنِّيْ مَا لاَ تَنْفَعُكَ وَاغْفِرْ لِيْ مَا وَلاَ تَضُرُّكَ يَا مَنْ إِذَا وَعَدَ وَفَا وَ إِذَا تَوَعِدُ تَجَاوَزَ وَعَفَا اِغْفِرْ لِيْ لِعَبْدٍ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَأَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ بَطْرِ اْلغِنَى وَجَهْدِ اْلفَقْرِ إِلَهِيْ خَلَقْتَنِيْ وَلَمْ أَكُنْ شَيْئًاً وَرَزَقْتَنِيْ وَلَمْ اَكُنْ شَيْئاً وَارْتَكَبْتُ اْلمَعَاصِيْ فَإِنِّيْ مُقِرٌّ لَكَ بِذُنُوبِيْ فَإِنْ عَفََوْتَ عَنِّيْ فَلاَ يَنْقُصُ مِنْ مُلْكِكَ شَيْئاً وَإِنْ عَذَبْتَنِيْ فَلاَ يَزِدُ فِيْ سُلْطَاِنكَ شيئاً اَللَّهُمَّ إِنَّكَ تَجِدُ مَنْ تُعَذِّبُهُ غَيْرِي لَكِنِّيْ لاَ أَجِدُ مَنْ يَرْحَمْنِيْ سِوَاكَ فَاغْفِرْ لِيْ مَا بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ وَمَا بَيْنَ خَلْقِكَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيَا رَجَاءَ السّائِلِيْنَ وَيَا أَمَانَ اْلخَائِفِيْنَ إِرْحَمْنِيْ بِِرَحْمَتِكَ الْوَاسِعَةَ أَنْتَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَاَلمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ ِللْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَتَابِعِ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ ربّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ أَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ وصل الله على سيّدنا محمّد وعلى ألِهِ وصحبه وسلّم تسليمًا كثيرًا والحمد لله ربّ العالمين. أمين

Fadilahnya :
Sayidina Abu Bakar ra. berkata " Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sholat tersebut sebagai kafaroh (pengganti) sholat 400 tahun dan menurut Sayidina Ali ra. sholat tersebut sebagai kafaroh 1000 tahun. Maka bertanyalah sahabat : umur manusia itu hanya 60 tahun atau 100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya ?". Rasulullah SAW menjawab, " untuk kedua orang tuanya, untuk istrinya, untuk anaknya dan untuk sanak familinya serta orang-orang yang didekatnya/ lingkungannya.

Catatan:
Diambil dari kitab "Majmu'atul Mubarakah", susunan Syekh Muhammad Shodiq Al-Qahhawi. Yang diijazahkan oleh Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, Pekalongan. waktu pelaksanaan shalat ini dapat dilakukan antara waktu setelah Dhuha hingga sebelum Ashar, pada hari Jum'at terakhir di bulan suci Ramadhan.
Dalam riwayat Syaidatina Fatimah Az-zahrah Ra. tiap dua rakaat masing - masing satu tasyahud dan salam dan membaca doa ini :

اللهم ياسابق الفوت وياسامع الصوت ويا محيي العظام بعد الموت اللهم صلي على محمد وال محمد واجعل لي من أمري فرجا ومخرجا مما انا فيه انك تقدر وأنا لاأقدر وانت تعلم وانا لاأعلم وأنت عليم الغيوب يا واهب العطايا وياغافر الخطايا ياسبوح ياقدوس يارب الملائكة والروح رب أغفر وارحم وتجاوز عما تعلم انك انت الاعز والاجل الاكرم وانت العلي الاعظم ياساتر العيوب ياذا الجلال والاكرام برحمتك ياارحم الراحمين —

Selasa, 16 Agustus 2016

Khabita "Lupakan Aku"

Khabita "Lupakan Aku" OST Film Indonesia "EKSKUL"

Ingin kunyatakan rasa cintaku padamu
Namun ku tak sanggup
Karena kau bukan untukku
Hanya rasa sakit dihatiku ketika ku melihatmu

Sirna sudah seluruh cintaku
Kau goreskan luka dihatiku
Kau hancurkan semua anganku untuk lupa memilikimu

Janganlah kau panggil aku lagi
Tuk ada disisimu
Janganlah kau kenang aku lagi
Karena ku telah pergi

Reff
Hapus aku dihatimu
Jagalah selalu dirimu
Seperti kau menjagaku
Disaat kita bersatu
Seperti dulu

Dan mungkin ini yang terbaik
Untukku dan untuk dirimu
Hapus aku dihatimu
Jagalah selalu dirimu
Seperti kau menjagaku
Disaat kita bersatu
Seperti dulu

Back to reff