Kamis, 01 September 2016

Receh untuk Indonesiaku


Saya menulis isi pikiran saya ini sekitar tiga tahun yang lalu, entah kenapa tulisan buruk ini ingin sekali saya publikasi. Melihat keprihatinan hutang negara dengan melihat kebiasaan orang Indonesia yang baik kepada para pengemis dijalanan, yang tidak pernah memperhitungkan receh yang ia keluarkan untuk mereka yang tidak bekerja, receh yang dengan ikhlasnya diambil dari dompetnya sisa kembalian belanja di super market, receh yang terkadang dianggap tidak berguna.
__________________________________________________________________

Seperti tubuh yang sudah terjangkit berbagai penyakait mulai dari yang ringan, sedang hingga yang berat. Begitulah permasalahan Indonesia saat ini. Sangat komplit mulai dari politik, sosial, hingga perekonomian tak pernah ada selesainya. Berbagai upaya untuk mengurangi suatu permasalahan, satu masalah selesai masalah yang lain bermunculan. Namun ada pula  yang ‘katanya’ sudah diupayakan untuk disembuhkan, tapi sampai sekarang tak ada tanda-tanda fisik yang sehat dan bahkan terlihat semakin pucat dan menular ke bagian-bagian tubuh yang lain seperti kanker ganas.
Penulis sedang tidak ingin melihat penyakit negeri ini secara kompleks dan menfokuskan pada satu hal yang berkaitan dengan masalah ekonomi. Hingga saat ini, Indonesia belum bisa melunasi hutangnya yang setiap tahun semakin bertambah dan akan terus bertambah jika tidak segera dilunasi. Memang sangat sulit dalam membuat APBN (Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara) dengan keuangan yang tipis karena pemasukan harus sama dengan pengeluaran, sedangkan kas negara kadang tidak cukup untuk anggaran satu tahun dan akhirnya jalan hutang ke luar negeri yang bisa diandalkan. Tahun 2013 hutang Indonesia hampir mencapai dua ribu triliun (Rp.2.000.000.000.000.000,-). Angka yang tidak sedikit karena ada dua belas angka nol yang terhitung disana. Jumlah penduduk keseluruhan Indonesia menurut data statistik tahun 2013 adalah 242.013.800 jiwa. Itu berarti hutang perkapita Indonesia adalah sekitar 8.263.992,- itupun terhitung dengan bayi yang baru lahir sampai yang sudah lanjut usia. Selain karena memang negara ini butuh lebih banyak uang untuk menutupi pengeluaran, juga kurs mata uang Indonesia terhadap dollar Amerika yang mencapai Rp.10.000 per $1. Penumpukan hutang memang sudah berjalan sejak presiden pertama, namun melonjak hingga mencapai 50 persen setelah masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono (2013).
Seperti halnya air, uang yang beredar tidaklah bertambah tetapi hanya berubah. Mengalir pada dataran yang rendah yang memang digali oleh orang yang benar-benar berusaha dan mendapatkan haknya, kering pada daratan rendah kantong orang-orang yang pemalas dan kadang juga pada datarannya orang yang telah berusaha menggali tanah tetapi air yang seharusnya ada pada tanahnya malah tersedot orang-oran yang tidak bertanggung jawab, hak mereka terampas. Tapi tidak sedikit adanya tampunga air yang ada diatas dataran rendah dengan tampungan benda lain. Itulah pekerjaan koruptor yang menampung air dengan ember pribadi, mengisi hingga penuh dari daratan yang bukan miliknya.
            Sedangkan kondisi hutang Indonesia ibarat lubang yang sudah terlalu dalam dan kering. Seandainya ember-ember yang ada di atas permukaan tanah itu dituang ke dalamnya, maka setidaknya lubang hutang itu akan terisi air meski tidak penuh namun pasti mendekati penuh. Bagaimanapun korupsi sangat sulit dibersihkan. Denda yang . Akan terlalu bosan jika dibahas setiap saat karena korupsi menjadi hal yang biasa ketika lingkungan sudah mulai penuh dengan kata korupsi, mulai dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Ketua Dewan Penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abdullah Hehamahua mengatakan bahwa sangat sulit jika negara ini mau keluar dari lilitan hutang.
              Pendapatan perkapita Indonesia di akhir tahun 2013 diperkirakan akan mencapai  44.000.000 - 45.000.000, hal itu telah menjadi kabar baik untuk pertumbuhan indonesia namun pendapatan tiap individu tidaklah sama, masih banyak terlihat orang-orang miskin disekitar kita. Berbagai profesi mulai dari pejabat tinggi hingga pengamen jalanan yang bisa kita lihat setiap harinya. Jika setiap individu diwajibkan membayar Rp 1.000,- setiap minggu maka tidak akan ada yang terbebani bahkan pengemispun seandainya diminta hanya Rp.1.000,- tidak akan mengubahnya menjadi orang yang lebih menderita. Dan ketika semua rakyat Indonesia tak terkecuali presiden dan para jajaran mentri diwajibkan atau ditagih Rp.1.000,- seminggu sekali, akan terkumpul 1.000,- X 242.013.800 penduduk = 242.013.800.000,- pada minggu pertama. Dan dalam bulan pertama 242.013.800.000 X 4 = 968.055.200.000 atau 242.013.800.000 X 5 =  1.210.069.000.000,-  pada bulan pertama, dan 242.013.800.000,-  X 53 = 12.826.731.400.000,- dalam tahun pertama . Untuk mencapai 2.000.000.000.000.000, akan membutuhkan waktu lebih dari 155 tahun, waktu yang tidak sebentar.
            Tetapi jika setiap individu di tuntut Rp.1000,- (diluar pajak penghasilan dll.) perhari akan menjadi, 242.013.800 X 1.000,- = 242.013.800.000,- kemudian 242.013.800.000 X 7 = 1.694.096.600.000,- per minggu, dan 242.013.800.000 X 365 = 88.335.037.000.000,- untuk mencapai 2.000.000.000.000.000 harus menunggu hingga 22 tahun, belum lagi beban bunga yang terus bertambah. Meskipun terbilang lumayan lama, setidaknya hal itu mampu mengurangi beban tahunan APBN. Dan akan sangat mungkin ketika penduduk terus bertambah setiap tahunnya.

            Hal yang mendasar lagi untuk mengatasi hutang luar negeri adalah dengan peningkatan konsumsi dalam negeri. Indonesia mempunya sekitar ratusan anak SMK yang skillnya diarahkan pada permesinan, ribuan mahasiswa yang fokus belajar teknologi. Jika Indonesia benar-benar mencetak mereka, Indonesia tidak perlu terlalu banyak impor barang elektronik dari negeri orang. Penduduk yang cenderung konsumtif membuat Indonesia lebih dituntut lagi untuk bisa meningkatkan industri dalam negeri. Sehingga kata ‘oleh Indonesia, dari Indonesia, dan untuk Indonesia’ tidak hanya menjadi sebuah semboyan belaka. 
Allahu a'lam.

Transaksi Kupon Barang Elektronik

Jadi tertarik untuk menuliskan pengalaman yang satu ini karena beberapa waktu yang lalu terjadi lagi meski di lain tempat. Aku tidak tau nama sistemnya tapi biar aku jelaskan alurnya dari awal. Ceritanya pada zaman dahulu ketika baru ada masa pra kuliah alias matrikulasi aku diajak teman untuk nge-mall. Setelah berkeliling keliling muter muyer naik turun seisi mall aku ditarik oleh seorang pemuda dengan memberikan bingkisan. Pemuda itu berkata “ini mbak saya kasih bingkisan gratis, tapi saya mau minta data mbaknya untuk laporan, jadi mbak ikut saya ke stand kami” dengan polosnya kami mengikuti pemuda itu. Kami berkenalan ditanya banyak hal kemudian dia mengenalkan perusahaannya. Dia bilang bahwa itu adalah toko elektronik yang baru buka dan menawarkan diskon mulai 60% hingga 90% plus gratis alat elektronik tertentu lainnya.
Sebelumnya pemuda itu menunjukkan pada kami daftar harga-harga barangnya dan mencontohkan harga sebuah kulkas jika tidak salah waktu itu sekitar 9juta dengan diskon 90%. Itu berarti kami hanya akan membayarnya dengan harga 900.000 saja pun dengan barang elektronik pilihan gratis. Daftar yang ditunjukkan pada barang yang bisa diberikan secara gratis diantaranya adalah seterika, bleder, mixer, kipas angin, dll. Sedangkan barang yang kita dapat namun masih bayar dengan diskon tertentu diantaranya kulkas, tv, kompor listrik, dvd, laptop, alat olahraga, dll. Kertas yang dipegang oleh pemuda itu terdapat gambar-gambar barang yang ditawarkan dan ada penjelasan diatas gambar barang ada nomor-nomor seri yang katanya sudah ada diantara amplop-amplop akan kami ambil salah satunya nanti, dibawah gambar-gambar ada harga asli barang yang nantinya itu adalah harga yang tidak berlaku karena kami akan mendapat potongan harga. Singkat cerita kami ditawarkan untuk menukarkan bingkisan tadi dengan kupon yang diacak yang isinya adalah kami berhak mendapat dua alat elektronik yang mana satu dari dua tersebut adalah gratis dan satunya tidak gratis tapi membayar dengan diberikan potongan harga sebesar 60-90% tergantung produk dan keterangan dari kupon yang akan didapat nanti.
Pemuda itu juga menjelaskan beberapa syarat diantaranya jika mendapat hadian atau beruntung, barang tidak bisa diuangkan, tidak bisa dibatalkan, dan tidak bisa ditukar dengan barang yang lain. Peraturannya adalah kami mengambil sebuah undian yang dibungkus amplop-amplop ukuran sedang satu kali untuk mendapatkan hadiah yang gratis kemudian jika kami mengambil hadiah tersebut mewajibkan kami untuk mengambil kupon kedua dengan membayar sekian persen saja. Kupon pertama teman-teman memintaku untuk mengambilnya. Muncul beberapa digit nomor kemudian mencocokkan dengan nomor yang ada di lembaran yang dipegang pemuda tersebut, rupanya kami (merasa) sedang beruntung mendapatkan sebuah seterika gratis. Pemuda tersebut menanyakan apakah kami akan mengambilnya atau tidak, maka kami sepakat mengambilnya karena kami pikir kami akan membutuhkannya di asrama nanti. Kupon kedua dua temanku memintaku yang memilihnya lagi dengan harapan tanganku benar-benar sedang beruntung. Kemudian kupon kedua berisi nomor seri yang cocok dengan kompor listrik. Kami masih bahagia. Kami sedikit berdiskusi “Kita kan gak butuh kompor listrik, barangkali kita bisa menjualnya dan hasilnya kita bagi-bagi nanti, sedangkan seterika kita bisa pakai di asrama gantian.” Deal!!! Kami menyetujuinya.
Dalam kupon tertera 35% yang kami harus bayar dari kompor dengan harga awal 4.000.000 (potongan 65%) sehingga kami hanya membayar dengan 35% yakni sekitar 1.400.000 plus seterika gratis. Masih merasa bahagia!. “Betewe aku gak punya duit loh” celetukku “Aku jugaa” teman satu. Kemudian satu teman lagi berkata “Aku ada sih, gak papa kalo aku yang bayar dulu tapi nanti kalian tetep iuran ya..” “OKE” Lagi-lagi kesepakatan dibuat diluar stand. Kami masuk lagi untuk menyetujui semuanya dan membayarnya.
Di perjalanan pulang kami (masih) merasa bahagia dan berbincang-bincang rencana penjualan kompor listrik yang kami dapat hari itu. Jual manual apa jual online? Mau ngambil keuntungan berapa juta? Hari itu memang sedang lelah sehingga perbincangan kami harus diteruskan keesokan harinya. “kalo kita jual 3juta aja kita udah lumayan banyak untungnya loh, daripada jual 4juta yang seharga toko asalnya” kata salah seorang temanku. Aku sibuk browsing harga-harga yang dijual di toko online untuk kategori kompor listrik, barangkali bisa dijadikan pertimbangan harga. “Mampus!!! Kompor listrik harganya Cuma sekitar 100.000 sampe 500.000 gengs!!” kataku lemes. “Jadi kita udah ketipu nih ceritanya?”

Yap!! Benar sekali, aku semakin yakin setelah kejadian yang hampir terjadi lagi itu. Aku belum pernah mendengar istilah dalam jual-beli yang semacam itu, yang biasa terdengar direct selling, MLM, dan jual-beli biasa. Tapi yang itu? Hahahaha jangan pernah percaya dengan orang yang menawarkan bingkisan kecil bersampul cantik di manapunn terutama mall ya!! Mungkin seharusnya saya melapor kepada pimpinan pihak mall bahwa ada transaksi semacam itu di salah satu stand-nya, tapi siapalah aku? Dikenal juga kagak, gak punya ahli hukum dll. So, tidur aja sambil mengutuk kesalahan sendiri, sambil berpikir banyak tentang kemungkinan-kemungkinan isi amplop yang lain adalah tulisannya sama, sambil berpikir kemungkinan elektronik yang dipajang hanyalah hiasan belaka, sambil berpikir bagaimana hukum dalam transaksi seperti ini, sambil berpikir sepertinya menarik untuk diteliti dalam skripsi. Sekian.