Saya menulis isi pikiran saya ini sekitar tiga tahun yang lalu, entah kenapa tulisan buruk ini ingin sekali saya publikasi. Melihat keprihatinan hutang negara dengan melihat kebiasaan orang Indonesia yang baik kepada para pengemis dijalanan, yang tidak pernah memperhitungkan receh yang ia keluarkan untuk mereka yang tidak bekerja, receh yang dengan ikhlasnya diambil dari dompetnya sisa kembalian belanja di super market, receh yang terkadang dianggap tidak berguna.
__________________________________________________________________
Seperti tubuh yang sudah terjangkit berbagai penyakait mulai dari
yang ringan, sedang hingga yang berat. Begitulah permasalahan Indonesia saat
ini. Sangat komplit mulai dari politik, sosial, hingga perekonomian tak pernah
ada selesainya. Berbagai upaya untuk mengurangi suatu permasalahan, satu
masalah selesai masalah yang lain bermunculan. Namun ada pula yang ‘katanya’ sudah diupayakan untuk
disembuhkan, tapi sampai sekarang tak ada tanda-tanda fisik yang sehat dan
bahkan terlihat semakin pucat dan menular ke bagian-bagian tubuh yang lain
seperti kanker ganas.
Penulis sedang tidak ingin melihat penyakit negeri ini secara
kompleks dan menfokuskan pada satu hal yang berkaitan dengan masalah ekonomi. Hingga
saat ini, Indonesia belum bisa melunasi hutangnya yang setiap tahun semakin
bertambah dan akan terus bertambah jika tidak segera dilunasi. Memang sangat
sulit dalam membuat APBN (Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara) dengan
keuangan yang tipis karena pemasukan harus sama dengan pengeluaran, sedangkan
kas negara kadang tidak cukup untuk anggaran satu tahun dan akhirnya jalan
hutang ke luar negeri yang bisa diandalkan. Tahun 2013 hutang Indonesia hampir
mencapai dua ribu triliun (Rp.2.000.000.000.000.000,-). Angka yang tidak
sedikit karena ada dua belas angka nol yang terhitung disana. Jumlah penduduk
keseluruhan Indonesia menurut data statistik tahun 2013 adalah 242.013.800
jiwa. Itu berarti hutang perkapita Indonesia adalah sekitar 8.263.992,- itupun
terhitung dengan bayi yang baru lahir sampai yang sudah lanjut usia. Selain
karena memang negara ini butuh lebih banyak uang untuk menutupi pengeluaran,
juga kurs mata uang Indonesia terhadap dollar Amerika yang mencapai Rp.10.000
per $1. Penumpukan hutang memang sudah berjalan sejak presiden pertama, namun
melonjak hingga mencapai 50 persen setelah masa kepresidenan Susilo Bambang
Yudhoyono (2013).
Seperti halnya air, uang yang beredar tidaklah bertambah tetapi
hanya berubah. Mengalir pada dataran yang rendah yang memang digali oleh orang
yang benar-benar berusaha dan mendapatkan haknya, kering pada daratan rendah
kantong orang-orang yang pemalas dan kadang juga pada datarannya orang yang
telah berusaha menggali tanah tetapi air yang seharusnya ada pada tanahnya
malah tersedot orang-oran yang tidak bertanggung jawab, hak mereka terampas.
Tapi tidak sedikit adanya tampunga air yang ada diatas dataran rendah dengan
tampungan benda lain. Itulah pekerjaan koruptor yang menampung air dengan ember
pribadi, mengisi hingga penuh dari daratan yang bukan miliknya.
Sedangkan kondisi hutang Indonesia
ibarat lubang yang sudah terlalu dalam dan kering. Seandainya ember-ember yang
ada di atas permukaan tanah itu dituang ke dalamnya, maka setidaknya lubang
hutang itu akan terisi air meski tidak penuh namun pasti mendekati penuh.
Bagaimanapun korupsi sangat sulit dibersihkan. Denda yang . Akan terlalu bosan
jika dibahas setiap saat karena korupsi menjadi hal yang biasa ketika
lingkungan sudah mulai penuh dengan kata korupsi, mulai dari yang paling kecil
hingga yang paling besar. Ketua Dewan Penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK), Abdullah Hehamahua mengatakan bahwa sangat sulit jika negara ini mau
keluar dari lilitan hutang.
Pendapatan perkapita Indonesia di
akhir tahun 2013 diperkirakan akan mencapai 44.000.000 - 45.000.000, hal itu telah menjadi
kabar baik untuk pertumbuhan indonesia namun pendapatan tiap individu tidaklah
sama, masih banyak terlihat orang-orang miskin disekitar kita. Berbagai profesi
mulai dari pejabat tinggi hingga pengamen jalanan yang bisa kita lihat setiap
harinya. Jika setiap individu diwajibkan membayar Rp 1.000,- setiap minggu maka
tidak akan ada yang terbebani bahkan pengemispun seandainya diminta hanya
Rp.1.000,- tidak akan mengubahnya menjadi orang yang lebih menderita. Dan
ketika semua rakyat Indonesia tak terkecuali presiden dan para jajaran mentri
diwajibkan atau ditagih Rp.1.000,- seminggu sekali, akan terkumpul 1.000,- X
242.013.800 penduduk = 242.013.800.000,- pada minggu pertama. Dan dalam bulan
pertama 242.013.800.000 X 4 = 968.055.200.000 atau 242.013.800.000 X 5 = 1.210.069.000.000,-
pada bulan pertama, dan
242.013.800.000,- X 53 = 12.826.731.400.000,-
dalam tahun pertama . Untuk mencapai 2.000.000.000.000.000, akan membutuhkan
waktu lebih dari 155 tahun, waktu yang tidak sebentar.
Tetapi
jika setiap individu di tuntut Rp.1000,- (diluar pajak penghasilan dll.)
perhari akan menjadi, 242.013.800 X 1.000,- = 242.013.800.000,- kemudian
242.013.800.000 X 7 = 1.694.096.600.000,- per minggu, dan 242.013.800.000 X 365
= 88.335.037.000.000,- untuk mencapai 2.000.000.000.000.000 harus menunggu
hingga 22 tahun, belum lagi beban bunga yang terus bertambah. Meskipun
terbilang lumayan lama, setidaknya hal itu mampu mengurangi beban tahunan APBN.
Dan akan sangat mungkin ketika penduduk terus bertambah setiap tahunnya.
Hal yang mendasar lagi untuk
mengatasi hutang luar negeri adalah dengan peningkatan konsumsi dalam negeri.
Indonesia mempunya sekitar ratusan anak SMK yang skillnya diarahkan pada permesinan,
ribuan mahasiswa yang fokus belajar teknologi. Jika Indonesia benar-benar mencetak
mereka, Indonesia tidak perlu terlalu banyak impor barang elektronik dari
negeri orang. Penduduk yang cenderung konsumtif membuat Indonesia lebih
dituntut lagi untuk bisa meningkatkan industri dalam negeri. Sehingga kata
‘oleh Indonesia, dari Indonesia, dan untuk Indonesia’ tidak hanya menjadi
sebuah semboyan belaka.
Allahu a'lam.