Mungkin terlalu dini saat dia menyatakan cintanya padaku, atau aku yang
memang tidak tahu apa itu cinta. Aku mengiyakan saja, namun kami tidak
mendeklarasikan bahwa hubungan spesial kami bernama ‘pacaran’. Waktu itu aku
mahasiswi baru di sebuah perguruan tinggi di Surabaya, dan dia mahasiswa
semester lima di perguruan tinggi luar negeri. Kami berasal dari SMA yang sama
dulunya, dan aku sempat bercita-cita mengikuti jejaknya sebelum ayahku
melarangku kuliah di negara orang. Ayah berkata bahwa perguruan tinggi yang
dimiliki Indonesia sudah cukup untuk membuat manusianya cerdas, tak perlu
meminta ilmu di negara orang kecuali kau hanya untuk mengembangkan dan menunjukkan
keilmuan Indonesia bisa keren di mata mancanegara. Lagipula kualitas otak
manusia bukan ditentukan oleh perguruan tinggi atau siapa yang mengajarmu, tapi
bagaimana kamu sendiri belajar dan mengembangkan pengetahuanmu sendiri. Aku
lumayan menyetujui perkataan ayah dan aku ingin tahu itu.
Nizam namanya, makhluk baik hati yang disukai banyak gadis terutama adek
kelasnya ketika di SMA yang ternyata dia diam-diam menyukaiku sejak aku di-MOS
olehnya. Satu tahun pertama hubungan kami baik-baik saja, sampai suatu ketika
aku jujur kepada bundaku tentang hubungan kami. Tanggapan bunda tidak terlihat
ia menyetujuinya atau menolaknya, bunda hanya memberiku sederetan panjang
nasehat bagaimana sebuah hubungan itu seharusnya. Aku tidak berani bicara
tentang ini kepada ayah, tapi bunda ia membicarakan hal ini dan yang aku
dapatkan adalah tidak ada restu dari ayah. Ayah dan bunda mengenalnya, tapi
entah apa yang membuat ayah tidak menyetujui hubungan kami. Aku tidak bisa
mengatakan ayah orang yang egois, karena aku tahu jauh dilubuk hatinya ia
menginginkan suatu yang terbaik untuk anak gadisnya.
Tiga bulan hingga empat bulan aku merahasiakan hal itu kepada Nizam. Aku
bingung, aku takut, aku tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana. Dia yang
terlanjur jatuh hati dan banyak berharap hubungan kami hingga akhirat, harus
kecewa berat hanya karena keputusan ayahku sudah bulat. Aku tidak ingin ia
kecewa pada ayah, hingga aku harus mengarang cerita perselingkuhanku dan bahwa
aku sudah tidak lagi cinta padanya. Setidaknya agar ia rela melepas perempuan
(yang akan dianggap) tidak baik sepertiku, setidaknya jika ia kecewa cukuplah
hanya aku yang dapat ia benci dan bukan keluargaku. Butuh waktu cukup lama
untuk mengatakan kebohongan itu, hingga suatu saat aku menumpahkan segala
karangan cerita melalui email kepadanya.
Berat, kecewa, sedih, marah, semua tercampur aduk dalam hatinya juga hatiku.
Kenapa? Kata itu yang selalu ia lontarkan padaku yang aku pun tak bisa
menjelaskan apa-apa lagi kecuali penjelasan yang masih samar-samar juga. “ini
keputusanku, sudah bulat, aku memang tidak baik untuk kamu. Maafkan aku kak Zam,
sungguh..”
Sejak saat itulah hubungan kami benar-benar senyap. Dari luar tampak seakan
tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Berat, sangat berat aku harus berbohong
padanya yang memiliki cinta yang tidak biasa padaku. Aku belum pernah dicintai manusia
setulus dia. Tidak seperti orang-orang pacaran pada umumnya, kami lebih banyak
menjalani dengan LDR dan hanya melampiaskan kerinduan kami melalui -saling-
doa. Kaku. Aneh. Dan sebutan lain banyak terlontar dari teman-teman dekatku
yang tau hubungan kami. Aku bahkan tidak pernah cerita mengenai hal ini dan
membiarkannya tersimpan rapat. Aku pikir hanya Tuhan kami yang berhak tahu bagaimana
hati kami -sebenarnya- saling terpaut. Tadinya aku akan menceritakannya suatu
saat, bagaimana perjuangan kami untuk menuju hubungan yang halal, namun restu
ayahku membuatku meralat segalanya. Aku pikir, hubungan kami akan menjadi
hubungan yang indah hingga akhirat. Begitu juga yang Nizam harapkan.
Ibuku, yang kenal baik seorang Nizam, sudah terlanjur berharap bahwa kelak
putri kesayangannya bisa mendapatkan seorang pria yang baik seperti Nizam. Namun
apalah daya ibu, otoritas tertinggi dalam keluarga tetap pada keputusan ayah. Sayangnya,
kami juga tidak bisa melawan sifat kerasnya ayah. Sejak keputusan ayah bulat,
aku menjadi jarang pulang ke rumah saat weekend dan lebih banyak
menghabiskan waktu di kos meskipun sedang tidak ada tugas kampus. Ibu sesekali
bertanya apakah aku pulang saat weekend, dan aku hanya beralasan ingin
mengejar proposal lebih awal agar bisa lulus di semester 7.
Nizam yang terlanjur kecewa dan marah padaku, ia memblokir semua media
sosialku. Aku mengutuk diriku sendiri, bagaimana bisa aku membuat orang sebaik dan
sesempurna Nizam menjadi marah padaku. Harusnya aku memperjuangkan dia. Harusnya
aku bisa bernego dengan ayah. Harusnya aku minta bantuan pada ibu. Harusnya...ahh...semua
sudah berlalu.
Masa proses melupakan segalanya, sahabat terbaikku yang tahu segala tentang
kami, dia cerita bahwa Nizam telah bertunangan dengan orang pilihan ibunya. Kabar
itu, membuatku semakin terpuruk rasanya. Apakah dia bahagia? Tanyaku. Dia menjawab
tidak tahu. Bahkan aku tidak pernah bertemu lagi dengannya meski dia tinggal
berjarak satu desa dari rumahku. Meski aku belum bisa melupakannya hingga dua tahun
pertama ini, aku terus berharap semoga dia bahagia dengan siapapun yang
menajadi jodohnya.
Rasa ingin tahu kabarnya -atau mungkin karena merindukannya- aku membuat
akun media sosial palsu. Scroll dari atas hingga bawaaaaaahh bermacam-macam, aku
membaca beberapa statusnya yang tertanggal tidak jauh dari saat aku memutuskan
mengakhiri semuanya. Perasaan sedihnya, marahnya, dan kecewanya dapat aku baca
meskipun dia tidak menuliskannya secara langsung perasaannya.
“Jika kelak kita hidup dalam rumah tangga yang berbeda, maka aku mohon kunjungilah
aku dalam rangka sahabat atau tetangga baikmu”
Bagaimana bisa aku melakukannya? Mungkin dia akan bahagia dengan istrinya? Bagaimana
denganku? Apakah kelak aku juga akan mendapatkan suami yang cintanya setulus
Nizam? Ah, akun palsu hanya membuatku semakin berlama-lama bersedih dan sakit
hati karena aku tidak akan berhenti mencari tahu kabarnya. Aku membuangnya
lagi.
Usai lulus sesuai target, aku dianjurkan mengikuti tes beasiswa S2 oleh
beberapa dosen termasuk dosen pembimbing skripsiku, pak Irsyadi. Usai konsultasi
pada orang tua, ibuku setuju, namun ayah belum merestuinya. Ayah ingin aku menikah
dulu sebelum aku melanjutkan S2ku. Di desaku, anak perempuan seumuranku memang
sudah banyak yang berkeluarga, ayah khawatir jika aku akan menjadi perawan tua.
Beberapa pria sudah mengadap ayah untuk meminangku, namun tidak ada satupun
yang berhasil menyentuh hatiku. Ibu juga mulai khawatir bahwa aku belum bisa
melupakan Nizam yang sudah tiga tahun tidak terdengar lagi kabarnya. Hanya Elita
sahabatku satu-satunya yang tahu kabarnya. Sering kali aku bertanya kabar
Nizam, namun Elita sering kali menyembunyikannya dengan jawaban tidak tahu. Namun
kabar angin juga dapat aku dengar bahwa sebentar lagi dia akan menikah. Elita semakin
menyemangatiku untuk bisa move-on darinya. “Dia berhak bahagia, kamu juga harus
bahagia Milaa..” Elita mulai geram dengan sikapku. “Apakah dia bahagia bersama
istrinya?” tanyaku beberapa bulan kemudian. “Nizam mengucapkan akad dengan
sangat mantap Mil, aku yakin dia bahagia”. “Alhamdulillah kalau begitu, itu
yang aku harapkan, barakallah lahuma wa jama’a bainahuma fi khair..” “Amiiin”
jawab Elita senyum dengan harapan bahwa hatiku juga sudah sembuh.
Aku menyibukkan diri dengan bekerja disebuah perusahaan sebagai analis
keuangan di kota Malang. Hingga seorang pria datang kepada orang tuaku, kata
ibu dia InsyaAllah baik untukku. Ibu mendukungku dengan pria satu ini. Fahmi
namanya. Agamanya baik, keluarganya baik, pendidikannya juga baik, lulusan S2
UI, dia akan menjadi suami yang baik untukku kata ibu. Ayah adalah orang paling
setuju, karena Fahmi adalah anak dari teman baiknya. “Dia dulu pernah main
kesini waktu kalian masih kecil loh, setelah lulus SMP keluarganya pindah ke
Semarang, jadi sudah gak pernah main kesini lagi. Katanya dia pernah melihatmu
waktu penelitian di Surabaya, tapi gak berani yang mau nyapa takut salah orang
katanya” jelas ayah. Dan aku? Hanya menanggapinya
dengan perasaan hambar.
Elita yang masih tahu bagaimana hampanya hatiku, dia menasehatiku bahwa aku
harus berhenti mengharapkan seorang yang sudah menjadi suami orang lain. Iya,
aku tahu itu. Harusnya cintaku pada Nizam ini sudah tidak boleh, karena dia
sudah menjadi suami orang lain. Tidak boleh lagi aku merindukannya, karena ini
adalah rindu terlarang. Ya Allah, tak akan lelah hamba meminta agar hapuskan
rasa ini dari hati hamba karena dia bukan jodohku. Aku juga bertanya-tanya
akankah aku diampuni oleh-Nya karena membuat sebuah hati tersakiti? Sebuah hati
yang begitu tulus, aku hancurkan harapannya.
Ibu benar, Fahmi adalah orang yang baik. Terbukti dari sikapnya yang tidak
seperti pemuda didesaku yang akan mengajak keluar atau jalan-jalan tunangannya.
Fahmi lebih memilih silaturrahim seperti biasa pada keluargaku. Dan sifat-sifat
baik yang dia tunjukkan sudah mulai mencairkan hatiku.
Suatu hari, aku menjenguk teman baikku -saat masih kuliah- di sebuah rumah
sakit Surabaya. Sepanjang lorong jalan bau obat khas rumah sakit membuatku
sedikit pusing hingga membuatku harus memakai masker. Teriakan orang kesakitan sesekali
terdengar sangat pilu. Dan keluarga yang menyandinginya, aku juga tidak tega. Terlihat
begitu tegar meski wajahnya sesekali disekanya air mata. Temanku dirawat di lantai
3 di kamar paling ujung, ruang yang terisi sekitar enam pasien.
Setelah menyemangati temanku dan keluarganya, aku pamit pulang. Sesampai di
lima meter sebelum pintu ruangan, tirai pasien sebelah temanku dirawat terbuka.
Seorang suster keluar diikuti seorang ibu paruh baya. Deg!!! Bukankah dia
ibunya Nizam? Aku membiarkannya lewat begitu saja didepanku. Aku masih dengan
maskerku. Ngapain beliau disini? Hingga kulihat siapa yang sedang terkulai
lemas diranjang pasien itu. Nizam? Sakit apakah dia? Dan seorang perempuan yang
begitu teduh wajahnya. Istrinya kah? Ya Allah.. ada apa ini? Hingga ibu Nizam
tidak telihat karena mengikuti si perawat, aku masih terpaku menyaksikan orang
yang selama ini aku cari tahu kabarnya, terkulai lemas, pucat. “Mbak Mila kan
ya?” tanya perempuan yang daritadi disamping Nizam membuyarkan tatapanku. Aku bingung. Kaku. “ehh eh i..iya, kok kamu
tahu?” jawabku gugup. Kenapa dia mengenalku? Aku masih dengan maskerku. “Boleh
bicara sebentar?” katanya. “emm b..boleh..” aku diajaknya keluar ruang pasien
meninggalkan Nizam yang sepertinya sedang tidur.
Perempuan itu, benarlah dugaanku, dia istri Nizam. Dia berbicara panjang
lebar. Dan yang membuatku semakin lemas adalah istrinya Nizam tahu bahwa Nizam
masih mengharapkanku. Dari awal Nizam sudah meminta maaf pada calon istrinya
itu, jika hingga detik itu dia masih belum bisa menghapus bayanganku dari
benaknya. Namun dia, istrinya yang cantik itu masih saja menerima kenyataan tersebut
karena pernikahan mereka adalah keputusan orang tuanya. Sudah lima hari ini
Nizam dirawat di rumah sakit karena penyakit liver. Iya, Nizam pernah bercerita
padaku bahwa dia sempat sakit ketika masa kuliah di luar negeri dan kata dokter
itu adalah gejala liver. Dia khawatir penyakit itu kambuh lagi suatu saat. Dia bercerita
betapa sakitnya jika penyakit itu kambuh. Apalagi saat itu dia sedang jauh dari
kerabat dan keluarga. Dia pun pernah mempertanyakan kesanggupanku untuk merawatnya
jika suatu saat penyakit itu kambuh lagi.
“Mbak, saya boleh minta sesuatu?” kata perempuan didepanku. “Minta apa
mbak?” tanyaku. “Menikahlah dengan Nizam, dia sangat mencintai mbak Mila..”.
Allahu Rabbii... bagaimana bisa, seorang istri meminta orang lain menikah
dengan suaminya sendiri. “Tapi mbak..” “Mbak... saya mohon... mas Nizam akan
bahagia jika mbak yang menjadi istrinya.. dan mungkin jika mbak jadi istrinya,
mas Nizam gak akan sakit seperti ini..” perempuan itu mulai menangis. “saya
mohon mbak..” dia semakin memelas membuatku harus segera pergi. “ndak mungkin
mbak, ndak mungkin.. maafkan saya..” sambil buru-buru pergi.
Sepanjang perjalanan pulang, aku menyesali segalanya. Aku mengutuk diriku
sendiri. Betapa jahat diriku membuat orang lain menjadi se-menderita ini. Ya
Allaahhh akankah dosaku ini bisa Engkau ampuni? Setiap kata yang diucapkan
istri Nizam terngiang jelas di benakku. Tidak ada wanita di dunia ini yang
menginginkan suaminya menikah dengan orang lain. Apakah dia sudah bosan tidak
mendapatkan kebahagiaan dari Nizam? Jika iya, pastilah tetap aku yang salah. Aku
yang membuatnya seperti ini. Seharusnya wanita malang itu tidak ikut menderita
seperti ini. Jika aku meng-iya-kan permintaannya untuk menikah dengan Nizam,
apa kata orang? apa kata orang tuanya? Tetangganya? Orang tuaku? Tetanggaku? Pastilah
aku akan semakin dianggap perempuan yang tidak benar. Bagaimana dengan Fahmi
yang sudah mulai memasuki ruang di hatiku? Bagaimana keluarga Fahmi yang juga
sudah terlanjur mengharapkanku? Ya Allaah astaghfirullaahh..
Sesampai terminal Arjosari, aku lanjutkan pejalanan menuju rumah dengan motorku,
lemas tidak bersemangat. Beberapa kilo dari terminal hujan begitu deras
menambah rasa pilu di hatiku. Hujan menyamarkan air mataku yang mulai deras
juga. “maafkan aku kak zaam, maafkan aku...kak Nizaaaaaamm” teriakku didalam
helm. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil yang melaju kencang di 20meter dariku
menghindari trotoar yang sedang dalam perbaikan hingga terguling tepat
didepanku dan beberapa pengendara motor lainnya. Sial! Aku tidak bisa
menghidarinya. Terpental cukup jauh dan kepala membentur trotoar sangat keras. Korban-korban lain juga terpental tidak karuan. Allaaahhhh. Kemudian gelap.
Sekitar 95km dari kejadian itu, seorang wanita mengisi kepergian suaminya. Suami
yang belum sempat mencintainya sebagai istri. Iya, Nizam masuk masa kritis
tidak lama setelah Mila pergi dari tempat itu. Dan meninggal karena livernya sudah
masuk hepatitis C. Sang ibu tidak berhenti menangisi kepergian putra
kesayangannya.
Bisa jadi, kepergian dua jiwa itu menuju satu tempat
yang sama, yang abadi di hadapan Ilahi. Karena di alam yang kekal, tidak ada
cinta yang dihalangi, tidak ada cinta terlarang, tidak ada cinta yang
tersakiti, karena Yang Maha Cinta akan mengabadikan cinta suci dua hati yang
selalu disandarkan pada-Nya.
_TAMAT_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar