Jadi tertarik untuk
menuliskan pengalaman yang satu ini karena beberapa waktu yang lalu terjadi
lagi meski di lain tempat. Aku tidak tau nama sistemnya tapi biar aku jelaskan
alurnya dari awal. Ceritanya pada zaman dahulu ketika baru ada masa pra kuliah alias
matrikulasi aku diajak teman untuk nge-mall. Setelah berkeliling keliling muter
muyer naik turun seisi mall aku ditarik oleh seorang pemuda dengan memberikan
bingkisan. Pemuda itu berkata “ini mbak saya kasih bingkisan gratis, tapi saya
mau minta data mbaknya untuk laporan, jadi mbak ikut saya ke stand kami” dengan
polosnya kami mengikuti pemuda itu. Kami berkenalan ditanya banyak hal kemudian
dia mengenalkan perusahaannya. Dia bilang bahwa itu adalah toko elektronik yang
baru buka dan menawarkan diskon mulai 60% hingga 90% plus gratis alat
elektronik tertentu lainnya.
Sebelumnya pemuda itu
menunjukkan pada kami daftar harga-harga barangnya dan mencontohkan harga
sebuah kulkas jika tidak salah waktu itu sekitar 9juta dengan diskon 90%. Itu
berarti kami hanya akan membayarnya dengan harga 900.000 saja pun dengan barang
elektronik pilihan gratis. Daftar yang ditunjukkan pada barang yang bisa
diberikan secara gratis diantaranya adalah seterika, bleder, mixer, kipas
angin, dll. Sedangkan barang yang kita dapat namun masih bayar dengan diskon
tertentu diantaranya kulkas, tv, kompor listrik, dvd, laptop, alat olahraga,
dll. Kertas yang dipegang oleh pemuda itu terdapat gambar-gambar barang yang
ditawarkan dan ada penjelasan diatas gambar barang ada nomor-nomor seri yang
katanya sudah ada diantara amplop-amplop akan kami ambil salah satunya nanti, dibawah gambar-gambar
ada harga asli barang yang nantinya itu adalah harga yang tidak berlaku karena
kami akan mendapat potongan harga. Singkat cerita kami ditawarkan untuk
menukarkan bingkisan tadi dengan kupon yang diacak yang isinya adalah kami
berhak mendapat dua alat elektronik yang mana satu dari dua tersebut adalah
gratis dan satunya tidak gratis tapi membayar dengan diberikan potongan harga
sebesar 60-90% tergantung produk dan keterangan dari kupon yang akan didapat
nanti.
Pemuda itu juga menjelaskan
beberapa syarat diantaranya jika mendapat hadian atau beruntung, barang tidak
bisa diuangkan, tidak bisa dibatalkan, dan tidak bisa ditukar dengan barang
yang lain. Peraturannya adalah kami mengambil sebuah undian yang dibungkus
amplop-amplop ukuran sedang satu kali untuk mendapatkan hadiah yang gratis
kemudian jika kami mengambil hadiah tersebut mewajibkan kami untuk mengambil
kupon kedua dengan membayar sekian persen saja. Kupon pertama teman-teman
memintaku untuk mengambilnya. Muncul beberapa digit nomor kemudian mencocokkan
dengan nomor yang ada di lembaran yang dipegang pemuda tersebut, rupanya kami
(merasa) sedang beruntung mendapatkan sebuah seterika gratis. Pemuda tersebut menanyakan apakah kami akan
mengambilnya atau tidak, maka kami sepakat mengambilnya karena kami pikir kami
akan membutuhkannya di asrama nanti. Kupon kedua dua temanku memintaku yang
memilihnya lagi dengan harapan tanganku benar-benar sedang
beruntung. Kemudian kupon kedua berisi nomor seri yang cocok dengan kompor
listrik. Kami masih bahagia. Kami sedikit berdiskusi “Kita kan gak butuh kompor
listrik, barangkali kita bisa menjualnya dan hasilnya kita bagi-bagi nanti,
sedangkan seterika kita bisa pakai di asrama gantian.” Deal!!! Kami
menyetujuinya.
Dalam kupon tertera 35% yang
kami harus bayar dari kompor dengan harga awal 4.000.000 (potongan 65%)
sehingga kami hanya membayar dengan 35% yakni sekitar 1.400.000 plus seterika
gratis. Masih merasa bahagia!. “Betewe aku gak punya duit loh” celetukku “Aku
jugaa” teman satu. Kemudian satu teman lagi berkata “Aku ada sih, gak papa kalo
aku yang bayar dulu tapi nanti kalian tetep iuran ya..” “OKE” Lagi-lagi
kesepakatan dibuat diluar stand. Kami masuk lagi untuk menyetujui semuanya dan membayarnya.
Di perjalanan pulang kami (masih) merasa bahagia dan berbincang-bincang
rencana penjualan kompor listrik yang kami dapat hari itu. Jual manual apa jual
online? Mau ngambil keuntungan berapa juta? Hari itu memang sedang lelah
sehingga perbincangan kami harus diteruskan keesokan harinya. “kalo kita jual
3juta aja kita udah lumayan banyak untungnya loh, daripada jual 4juta yang
seharga toko asalnya” kata salah seorang temanku. Aku sibuk browsing
harga-harga yang dijual di toko online untuk kategori kompor listrik,
barangkali bisa dijadikan pertimbangan harga. “Mampus!!! Kompor listrik
harganya Cuma sekitar 100.000 sampe 500.000 gengs!!” kataku lemes. “Jadi kita
udah ketipu nih ceritanya?”
Yap!! Benar sekali, aku semakin yakin setelah kejadian yang hampir terjadi
lagi itu. Aku belum pernah mendengar istilah dalam jual-beli yang semacam itu,
yang biasa terdengar direct selling, MLM, dan jual-beli biasa. Tapi yang itu? Hahahaha
jangan pernah percaya dengan orang yang menawarkan bingkisan kecil bersampul
cantik di manapunn terutama mall ya!! Mungkin seharusnya saya melapor kepada
pimpinan pihak mall bahwa ada transaksi semacam itu di salah satu stand-nya,
tapi siapalah aku? Dikenal juga kagak, gak punya ahli hukum dll. So, tidur aja
sambil mengutuk kesalahan sendiri, sambil berpikir banyak tentang
kemungkinan-kemungkinan isi amplop yang lain adalah tulisannya sama, sambil
berpikir kemungkinan elektronik yang dipajang hanyalah hiasan belaka, sambil
berpikir bagaimana hukum dalam transaksi seperti ini, sambil berpikir
sepertinya menarik untuk diteliti dalam skripsi. Sekian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar