Selasa, 27 Februari 2018

Rindu Terlarang

Mungkin terlalu dini saat dia menyatakan cintanya padaku, atau aku yang memang tidak tahu apa itu cinta. Aku mengiyakan saja, namun kami tidak mendeklarasikan bahwa hubungan spesial kami bernama ‘pacaran’. Waktu itu aku mahasiswi baru di sebuah perguruan tinggi di Surabaya, dan dia mahasiswa semester lima di perguruan tinggi luar negeri. Kami berasal dari SMA yang sama dulunya, dan aku sempat bercita-cita mengikuti jejaknya sebelum ayahku melarangku kuliah di negara orang. Ayah berkata bahwa perguruan tinggi yang dimiliki Indonesia sudah cukup untuk membuat manusianya cerdas, tak perlu meminta ilmu di negara orang kecuali kau hanya untuk mengembangkan dan menunjukkan keilmuan Indonesia bisa keren di mata mancanegara. Lagipula kualitas otak manusia bukan ditentukan oleh perguruan tinggi atau siapa yang mengajarmu, tapi bagaimana kamu sendiri belajar dan mengembangkan pengetahuanmu sendiri. Aku lumayan menyetujui perkataan ayah dan aku ingin tahu itu.
Nizam namanya, makhluk baik hati yang disukai banyak gadis terutama adek kelasnya ketika di SMA yang ternyata dia diam-diam menyukaiku sejak aku di-MOS olehnya. Satu tahun pertama hubungan kami baik-baik saja, sampai suatu ketika aku jujur kepada bundaku tentang hubungan kami. Tanggapan bunda tidak terlihat ia menyetujuinya atau menolaknya, bunda hanya memberiku sederetan panjang nasehat bagaimana sebuah hubungan itu seharusnya. Aku tidak berani bicara tentang ini kepada ayah, tapi bunda ia membicarakan hal ini dan yang aku dapatkan adalah tidak ada restu dari ayah. Ayah dan bunda mengenalnya, tapi entah apa yang membuat ayah tidak menyetujui hubungan kami. Aku tidak bisa mengatakan ayah orang yang egois, karena aku tahu jauh dilubuk hatinya ia menginginkan suatu yang terbaik untuk anak gadisnya.
Tiga bulan hingga empat bulan aku merahasiakan hal itu kepada Nizam. Aku bingung, aku takut, aku tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana. Dia yang terlanjur jatuh hati dan banyak berharap hubungan kami hingga akhirat, harus kecewa berat hanya karena keputusan ayahku sudah bulat. Aku tidak ingin ia kecewa pada ayah, hingga aku harus mengarang cerita perselingkuhanku dan bahwa aku sudah tidak lagi cinta padanya. Setidaknya agar ia rela melepas perempuan (yang akan dianggap) tidak baik sepertiku, setidaknya jika ia kecewa cukuplah hanya aku yang dapat ia benci dan bukan keluargaku. Butuh waktu cukup lama untuk mengatakan kebohongan itu, hingga suatu saat aku menumpahkan segala karangan cerita melalui email kepadanya.
Berat, kecewa, sedih, marah, semua tercampur aduk dalam hatinya juga hatiku. Kenapa? Kata itu yang selalu ia lontarkan padaku yang aku pun tak bisa menjelaskan apa-apa lagi kecuali penjelasan yang masih samar-samar juga. “ini keputusanku, sudah bulat, aku memang tidak baik untuk kamu. Maafkan aku kak Zam, sungguh..”
Sejak saat itulah hubungan kami benar-benar senyap. Dari luar tampak seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Berat, sangat berat aku harus berbohong padanya yang memiliki cinta yang tidak biasa padaku. Aku belum pernah dicintai manusia setulus dia. Tidak seperti orang-orang pacaran pada umumnya, kami lebih banyak menjalani dengan LDR dan hanya melampiaskan kerinduan kami melalui -saling- doa. Kaku. Aneh. Dan sebutan lain banyak terlontar dari teman-teman dekatku yang tau hubungan kami. Aku bahkan tidak pernah cerita mengenai hal ini dan membiarkannya tersimpan rapat. Aku pikir hanya Tuhan kami yang berhak tahu bagaimana hati kami -sebenarnya- saling terpaut. Tadinya aku akan menceritakannya suatu saat, bagaimana perjuangan kami untuk menuju hubungan yang halal, namun restu ayahku membuatku meralat segalanya. Aku pikir, hubungan kami akan menjadi hubungan yang indah hingga akhirat. Begitu juga yang Nizam harapkan.
Ibuku, yang kenal baik seorang Nizam, sudah terlanjur berharap bahwa kelak putri kesayangannya bisa mendapatkan seorang pria yang baik seperti Nizam. Namun apalah daya ibu, otoritas tertinggi dalam keluarga tetap pada keputusan ayah. Sayangnya, kami juga tidak bisa melawan sifat kerasnya ayah. Sejak keputusan ayah bulat, aku menjadi jarang pulang ke rumah saat weekend dan lebih banyak menghabiskan waktu di kos meskipun sedang tidak ada tugas kampus. Ibu sesekali bertanya apakah aku pulang saat weekend, dan aku hanya beralasan ingin mengejar proposal lebih awal agar bisa lulus di semester 7.
Nizam yang terlanjur kecewa dan marah padaku, ia memblokir semua media sosialku. Aku mengutuk diriku sendiri, bagaimana bisa aku membuat orang sebaik dan sesempurna Nizam menjadi marah padaku. Harusnya aku memperjuangkan dia. Harusnya aku bisa bernego dengan ayah. Harusnya aku minta bantuan pada ibu. Harusnya...ahh...semua sudah berlalu.
Masa proses melupakan segalanya, sahabat terbaikku yang tahu segala tentang kami, dia cerita bahwa Nizam telah bertunangan dengan orang pilihan ibunya. Kabar itu, membuatku semakin terpuruk rasanya. Apakah dia bahagia? Tanyaku. Dia menjawab tidak tahu. Bahkan aku tidak pernah bertemu lagi dengannya meski dia tinggal berjarak satu desa dari rumahku. Meski aku belum bisa melupakannya hingga dua tahun pertama ini, aku terus berharap semoga dia bahagia dengan siapapun yang menajadi jodohnya.
Rasa ingin tahu kabarnya -atau mungkin karena merindukannya- aku membuat akun media sosial palsu. Scroll dari atas hingga bawaaaaaahh bermacam-macam, aku membaca beberapa statusnya yang tertanggal tidak jauh dari saat aku memutuskan mengakhiri semuanya. Perasaan sedihnya, marahnya, dan kecewanya dapat aku baca meskipun dia tidak menuliskannya secara langsung perasaannya.
“Jika kelak kita hidup dalam rumah tangga yang berbeda, maka aku mohon kunjungilah aku dalam rangka sahabat atau tetangga baikmu”
Bagaimana bisa aku melakukannya? Mungkin dia akan bahagia dengan istrinya? Bagaimana denganku? Apakah kelak aku juga akan mendapatkan suami yang cintanya setulus Nizam? Ah, akun palsu hanya membuatku semakin berlama-lama bersedih dan sakit hati karena aku tidak akan berhenti mencari tahu kabarnya. Aku membuangnya lagi.
Usai lulus sesuai target, aku dianjurkan mengikuti tes beasiswa S2 oleh beberapa dosen termasuk dosen pembimbing skripsiku, pak Irsyadi. Usai konsultasi pada orang tua, ibuku setuju, namun ayah belum merestuinya. Ayah ingin aku menikah dulu sebelum aku melanjutkan S2ku. Di desaku, anak perempuan seumuranku memang sudah banyak yang berkeluarga, ayah khawatir jika aku akan menjadi perawan tua. Beberapa pria sudah mengadap ayah untuk meminangku, namun tidak ada satupun yang berhasil menyentuh hatiku. Ibu juga mulai khawatir bahwa aku belum bisa melupakan Nizam yang sudah tiga tahun tidak terdengar lagi kabarnya. Hanya Elita sahabatku satu-satunya yang tahu kabarnya. Sering kali aku bertanya kabar Nizam, namun Elita sering kali menyembunyikannya dengan jawaban tidak tahu. Namun kabar angin juga dapat aku dengar bahwa sebentar lagi dia akan menikah. Elita semakin menyemangatiku untuk bisa move-on darinya. “Dia berhak bahagia, kamu juga harus bahagia Milaa..” Elita mulai geram dengan sikapku. “Apakah dia bahagia bersama istrinya?” tanyaku beberapa bulan kemudian. “Nizam mengucapkan akad dengan sangat mantap Mil, aku yakin dia bahagia”. “Alhamdulillah kalau begitu, itu yang aku harapkan, barakallah lahuma wa jama’a bainahuma fi khair..” “Amiiin” jawab Elita senyum dengan harapan bahwa hatiku juga sudah sembuh.
Aku menyibukkan diri dengan bekerja disebuah perusahaan sebagai analis keuangan di kota Malang. Hingga seorang pria datang kepada orang tuaku, kata ibu dia InsyaAllah baik untukku. Ibu mendukungku dengan pria satu ini. Fahmi namanya. Agamanya baik, keluarganya baik, pendidikannya juga baik, lulusan S2 UI, dia akan menjadi suami yang baik untukku kata ibu. Ayah adalah orang paling setuju, karena Fahmi adalah anak dari teman baiknya. “Dia dulu pernah main kesini waktu kalian masih kecil loh, setelah lulus SMP keluarganya pindah ke Semarang, jadi sudah gak pernah main kesini lagi. Katanya dia pernah melihatmu waktu penelitian di Surabaya, tapi gak berani yang mau nyapa takut salah orang katanya” jelas ayah.  Dan aku? Hanya menanggapinya dengan perasaan hambar.
Elita yang masih tahu bagaimana hampanya hatiku, dia menasehatiku bahwa aku harus berhenti mengharapkan seorang yang sudah menjadi suami orang lain. Iya, aku tahu itu. Harusnya cintaku pada Nizam ini sudah tidak boleh, karena dia sudah menjadi suami orang lain. Tidak boleh lagi aku merindukannya, karena ini adalah rindu terlarang. Ya Allah, tak akan lelah hamba meminta agar hapuskan rasa ini dari hati hamba karena dia bukan jodohku. Aku juga bertanya-tanya akankah aku diampuni oleh-Nya karena membuat sebuah hati tersakiti? Sebuah hati yang begitu tulus, aku hancurkan harapannya.
Ibu benar, Fahmi adalah orang yang baik. Terbukti dari sikapnya yang tidak seperti pemuda didesaku yang akan mengajak keluar atau jalan-jalan tunangannya. Fahmi lebih memilih silaturrahim seperti biasa pada keluargaku. Dan sifat-sifat baik yang dia tunjukkan sudah mulai mencairkan hatiku.
Suatu hari, aku menjenguk teman baikku -saat masih kuliah- di sebuah rumah sakit Surabaya. Sepanjang lorong jalan bau obat khas rumah sakit membuatku sedikit pusing hingga membuatku harus memakai masker. Teriakan orang kesakitan sesekali terdengar sangat pilu. Dan keluarga yang menyandinginya, aku juga tidak tega. Terlihat begitu tegar meski wajahnya sesekali disekanya air mata. Temanku dirawat di lantai 3 di kamar paling ujung, ruang yang terisi sekitar enam pasien.
Setelah menyemangati temanku dan keluarganya, aku pamit pulang. Sesampai di lima meter sebelum pintu ruangan, tirai pasien sebelah temanku dirawat terbuka. Seorang suster keluar diikuti seorang ibu paruh baya. Deg!!! Bukankah dia ibunya Nizam? Aku membiarkannya lewat begitu saja didepanku. Aku masih dengan maskerku. Ngapain beliau disini? Hingga kulihat siapa yang sedang terkulai lemas diranjang pasien itu. Nizam? Sakit apakah dia? Dan seorang perempuan yang begitu teduh wajahnya. Istrinya kah? Ya Allah.. ada apa ini? Hingga ibu Nizam tidak telihat karena mengikuti si perawat, aku masih terpaku menyaksikan orang yang selama ini aku cari tahu kabarnya, terkulai lemas, pucat. “Mbak Mila kan ya?” tanya perempuan yang daritadi disamping Nizam membuyarkan tatapanku.  Aku bingung. Kaku. “ehh eh i..iya, kok kamu tahu?” jawabku gugup. Kenapa dia mengenalku? Aku masih dengan maskerku. “Boleh bicara sebentar?” katanya. “emm b..boleh..” aku diajaknya keluar ruang pasien meninggalkan Nizam yang sepertinya sedang tidur.
Perempuan itu, benarlah dugaanku, dia istri Nizam. Dia berbicara panjang lebar. Dan yang membuatku semakin lemas adalah istrinya Nizam tahu bahwa Nizam masih mengharapkanku. Dari awal Nizam sudah meminta maaf pada calon istrinya itu, jika hingga detik itu dia masih belum bisa menghapus bayanganku dari benaknya. Namun dia, istrinya yang cantik itu masih saja menerima kenyataan tersebut karena pernikahan mereka adalah keputusan orang tuanya. Sudah lima hari ini Nizam dirawat di rumah sakit karena penyakit liver. Iya, Nizam pernah bercerita padaku bahwa dia sempat sakit ketika masa kuliah di luar negeri dan kata dokter itu adalah gejala liver. Dia khawatir penyakit itu kambuh lagi suatu saat. Dia bercerita betapa sakitnya jika penyakit itu kambuh. Apalagi saat itu dia sedang jauh dari kerabat dan keluarga. Dia pun pernah mempertanyakan kesanggupanku untuk merawatnya jika suatu saat penyakit itu kambuh lagi.
“Mbak, saya boleh minta sesuatu?” kata perempuan didepanku. “Minta apa mbak?” tanyaku. “Menikahlah dengan Nizam, dia sangat mencintai mbak Mila..”. Allahu Rabbii... bagaimana bisa, seorang istri meminta orang lain menikah dengan suaminya sendiri. “Tapi mbak..” “Mbak... saya mohon... mas Nizam akan bahagia jika mbak yang menjadi istrinya.. dan mungkin jika mbak jadi istrinya, mas Nizam gak akan sakit seperti ini..” perempuan itu mulai menangis. “saya mohon mbak..” dia semakin memelas membuatku harus segera pergi. “ndak mungkin mbak, ndak mungkin.. maafkan saya..” sambil buru-buru pergi.
Sepanjang perjalanan pulang, aku menyesali segalanya. Aku mengutuk diriku sendiri. Betapa jahat diriku membuat orang lain menjadi se-menderita ini. Ya Allaahhh akankah dosaku ini bisa Engkau ampuni? Setiap kata yang diucapkan istri Nizam terngiang jelas di benakku. Tidak ada wanita di dunia ini yang menginginkan suaminya menikah dengan orang lain. Apakah dia sudah bosan tidak mendapatkan kebahagiaan dari Nizam? Jika iya, pastilah tetap aku yang salah. Aku yang membuatnya seperti ini. Seharusnya wanita malang itu tidak ikut menderita seperti ini. Jika aku meng-iya-kan permintaannya untuk menikah dengan Nizam, apa kata orang? apa kata orang tuanya? Tetangganya? Orang tuaku? Tetanggaku? Pastilah aku akan semakin dianggap perempuan yang tidak benar. Bagaimana dengan Fahmi yang sudah mulai memasuki ruang di hatiku? Bagaimana keluarga Fahmi yang juga sudah terlanjur mengharapkanku? Ya Allaah astaghfirullaahh..
Sesampai terminal Arjosari, aku lanjutkan pejalanan menuju rumah dengan motorku, lemas tidak bersemangat. Beberapa kilo dari terminal hujan begitu deras menambah rasa pilu di hatiku. Hujan menyamarkan air mataku yang mulai deras juga. “maafkan aku kak zaam, maafkan aku...kak Nizaaaaaamm” teriakku didalam helm. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil yang melaju kencang di 20meter dariku menghindari trotoar yang sedang dalam perbaikan hingga terguling tepat didepanku dan beberapa pengendara motor lainnya. Sial! Aku tidak bisa menghidarinya. Terpental cukup jauh dan kepala membentur trotoar sangat keras. Korban-korban lain juga terpental tidak karuan. Allaaahhhh. Kemudian gelap.
Sekitar 95km dari kejadian itu, seorang wanita mengisi kepergian suaminya. Suami yang belum sempat mencintainya sebagai istri. Iya, Nizam masuk masa kritis tidak lama setelah Mila pergi dari tempat itu. Dan meninggal karena livernya sudah masuk hepatitis C. Sang ibu tidak berhenti menangisi kepergian putra kesayangannya.
Bisa jadi, kepergian dua jiwa itu menuju satu tempat yang sama, yang abadi di hadapan Ilahi. Karena di alam yang kekal, tidak ada cinta yang dihalangi, tidak ada cinta terlarang, tidak ada cinta yang tersakiti, karena Yang Maha Cinta akan mengabadikan cinta suci dua hati yang selalu disandarkan pada-Nya.

_TAMAT_